Tampilkan postingan dengan label Ide Usaha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ide Usaha. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Agustus 2024

DARI TANAH LIAT LAHIR BATIK TANAH LIEK, KOK BISA ?!

Hallo sobat Tique... sudah lama hari mimin Tique tidak menyapa dan update berita terkini, mimin Tique mau memberikan informasi mengenai batik. Batik adalah salah satu peninggalan yang banyak orang pakai apalagi dalam fashion serta memiliki banyak motif dan arti dari suku dan budaya yang ada di Indonesia. Sekarang sobat Tique kita akan melihat arti dan motif dari Batik Tanah Liek. Iya batik ”Tanah Liat” kok bisa ??? Berikut penjelasannya.

Sumber : Google
Sejarah

Batik Tanah Liek sempat hilang dari peredaran selama beberapa waktu. Namun, berkat usaha seorang perempuan bernama Hj. Wirda Hanim, batik ini kembali diproduksi dan diperkenalkan kepada masyarakat luas pada tahun 1994. Hj. Wirda Hanim menemukan kembali teknik pembuatan Batik Tanah Liek setelah melihat kain batik ini digunakan oleh masyarakat di daerah Sumanik, Tanah Datar.

Dengan tekad yang kuat, Ibu Hj. Wirda Hanim, berencana melakukan inovasi kain. Sedangkan pengetahuannya tentang batik tidak dimilikinya. Saat itu, ia bertemu dengan guru membatik di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Kota Padang yang kini menjadi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang langsung berkunjung  ke sekolah dan rumahnya, berharap bisa bekerja sama. Namun, guru  hanya membimbing siswanya. Terlepas dari semuanya, Ibu Hj.Wirda Hanim tetap membiayainya, mulai dari membeli batik dan obat-obatan membatik namun hasil dari siswa tersebut tidak memuaskan. Sehingga Ibu Hj.Wirda Hanim tidak melanjutkan kerjasamanya.

Ragam Hias Batik Indonesia: Pesona Batik Tanah Liek dari Minangkabau

Batik, warisan budaya Indonesia yang diakui dunia, memiliki kekayaan motif dan corak yang beragam dari Sabang sampai Merauke. Setiap daerah di Indonesia memiliki ciri khas batiknya masing-masing, salah satunya adalah Batik Tanah Liek yang berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat. Batik Tanah Liek memiliki  Pesona Tanah Liat yang Memikat

Dalam bahasa Minangkabau disebut "batik tanah liek", adalah jenis batik yang unik karena menggunakan tanah liat sebagai pewarna dasarnya. Proses pembuatannya pun terbilang rumit. Kain katun yang akan dijadikan batik direndam dalam air yang dicampur tanah liat selama beberapa hari. Setelah itu, kain dicuci dan diwarnai kembali menggunakan pewarna alami dari tumbuhan seperti jengkol, rambutan, dan gambir. Awalnya batik pengaruh negara Cina ini sempat hilang, tetapi berhasil dihidupkan kembali pada pertengahan tahun 1990-an.

Tahun 1995, atas izin suaminya Ruslan Majid, ia berangkat ke Jogjakarta dengan modal pinjaman sebesar 20 juta rupiah untuk belajar membatik di sana. Dia kembali ke Padang hanya 2 hari kemudian. Selain kesedihan, ia tidak bisa melepaskan ukirannya dan 20 pekerja yang tinggal di rumahnya. Bu Hj. Wirda Hanim meminta kepada Dewan Batik Jogjakarta mengirimkan pengajar batik ke Padang yang beliau kontrak selama 3 bulan. Tapi sebelumnya, bu Hj. Wirda Hanim menitipkan contoh kain Batik Tanah Liek dengan harapan dapat dibuatkan motif dan warna sesuai contoh kain tersebut. Sesampainya di Padang, guru dan pemuda yang dibawa dari Jogjakarta tidak mampu membuat Batik Tanah Liek sesuai pola yang diberikan. Bahkan setelah 2 bulan bekerja bersama di padang, tak ada satupun kain yang bisa menandingi warna kain Batik Tanah Liek.

Karena kegigihannya, ia mengeluarkan banyak uang untuk membeli kain sutra, obat-obatan batik, dan barang peralatan batik, dan ia tidak pernah putus asa. Baru seminggu menjelang berakhirnya kontrak mengajar dari Jogja, Bu Hj. Virda Hanim mengenang bagaimana ia mendekorasi kue warna-warni saat kelas kue pernikahan dan ulang tahun yang ia ikuti di Jakarta. Ia bereksperimen dengan pewarna kimia untuk batik. Ibarat mencari warna yang cocok dengan Batik Tanah Liek, warna bumi (tanah). Di antara 10 lembar kain berukuran masing-masing 2 meter, hanya 2 lembar yang cocok dengan warna batik tanah liek.

Ibu Hj. Wirda Hanim terus bekerja keras dengan eksperimen dan menggaji karyawan khusus batik. Sejak itu, beliau memproduksi Batik Tanah Liek dengan bahan kimia. Sehingga pada saat itu, dinamakanlah merk hasil produksinya Batik Tanah Liek “Citra Monalisa”.

Namun hasilnya tetap sama, batik buatannya terlihat lebih rendah dibandingkan Batik Tanah Liek kuno. Pada suatu ketika, beliau pulang kampung dan bertanya kepada seorang ibu yang ada disana. “Mengapa batik ini disebut batik?” Dan sang ibu menjawab bahwa suku batik itu dilukis di atas tanah dan coraknya pada tumbuhan. Pertanyaannya berlanjut: Tanaman apa yang bisa dicabut? Dan sang ibu langsung menjawab yaitu gambir, rambutan, pinang dan lain-lain. Dengan mengatakan itu, Ibu Hj. Wirda Hanim mencoba mencari tahu tentang struktur dan panjangnya. Akhirnya, setelah 10 tahun mencoba, barulah beliau mendapatkan Batik Tanah Liek sesuai dengan contoh yang ada sekaligus telah dipatenkan dengan nama “Batik Tanah Liek”. Pertamina tempat suaminya meminjamkan modal pada tahun 1997 akhirnya lunas, bantuan pinjaman ini adalah pinjaman pertama untuk eksekusi experimennya,

Sumber: Google
Sampai saat ini Ibu Hj. Wirda Hanim terus mempertahankan Batik Tanah Liek di kediaman dan pamerannya, Jalan Sawahan Dalam, No. 33, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat. Tak hanya itu, berbagai penghargaan telah diperolehnya dari pemerintah maupun swasta, seperti Upakarti Award pada tahun 2006 atas upayanya dalam melestarikan warisan seni dan budaya Indonesia, serta dari MARKPLUS pada tahun 2014 sebagai Marketter of the Year.

Banyak sekali keunikan Batik Tanah Liek, antara lain:

  • Warna Khas: Warna dasar Batik Tanah Liek adalah cokelat tua yang khas dan elegan, hasil dari perendaman dalam tanah liat.
  • Motif Batik Tanah Liek umumnya terinspirasi dari alam sekitar, seperti tumbuhan, hewan, dan bentuk geometri.
  •  Filosofi: Setiap motif pada Batik Tanah Liek memiliki makna filosofis yang mendalam, mencerminkan nilai-nilai luhur masyarakat Minangkabau.

Batik Tanah Liek adalah salah satu contoh kekayaan ragam hias batik Indonesia yang patut kita banggakan. Dengan memahami sejarah dan proses pembuatannya, kita dapat lebih menghargai keindahan dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Mari bersama-sama melestarikan batik Indonesia agar warisan budaya ini tetap hidup dan berkembang. Bagaimana menurut sobat mimin Tique??? masih mau menghilangkan kelestarian dan ciri khas batik tanah liek? jangan ya... jangan...hehehe.  Sobat Tique jangan lupa untuk beri komentar serta jawabannya kepada mimin ya sobat Tique di alamat email  1maculata.batique@gmail.com atau tulis aja di kolom komentar. Terima kasih banyak sobat Tique, sampai jumpa kembali! Jangan lupa untuk terus ikuti berita terupdate nya ya… 

Selasa, 22 Agustus 2023

PASANGAN MUDA !! PENJUAL KAIN BATIK

Hallo selamat datang bersama mimin Tique. Hari ini kita akan membahas mengenai pasangan muda yang berhasil memperkenalkan batik sebagai identitas negara Indonesia salah satunya dengan menjualkan kepada masyarakat Indonesia hingga luar negeri loh...penasaran ??? yuk simak penjelasannya 

Asal Usul Batik

Batik adalah salah satu budaya Jawa yang paling berharga. Asal mulanya masih diperdebatkan, namun yang pasti kain batik mencapai puncak "kesempurnaannya" di tanah Jawa. Sejarah batik  Indonesia tidak terlalu tua, diperkirakan baru mulai berkembang pada abad ke-17, namun batik  masih dapat eksis dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia bahkan salah satunya menjadi model baju baik seragam anak sekolah hingga fashion busana. Tidak pernah menjadi tua (usang), seiring  waktu terus berjalan dan menjadi lebih modern. Untuk pertama kali berkembang pesat dari istana (keraton) dengan desain dekoratif alias beragam motif yang dipengaruhi oleh zaman Hindu   di pulau Jawa. Setiap lembaraan kain terutama yang sering digunakan yaitu pakaian batik memiliki makna yang lebih luas serta mendalam bukan sekedar kain penutup tubuh, tetapi yang lebih penting lagi, penataan yang beragam hias dan pewarnaan merupakan perpaduan antara seni, adat istiadat, sikap  dalam hal pandangan hidup dan kepribadian. lingkungan yang melahirkannya, yaitu lingkungan keraton.

Gambar : Google

Dekorasi keraton dirancang khusus  hanya untuk raja dan keturunannya  langsung , seperti motif kawung, lereng dan parang-parangan.  Seiring berjalannya waktu, kain batik mulai tersebar di luar lingkungan keraton. Pola  hias khusus raja dan keluarganya menjadi “pola larangan”, sehingga kain batik yang dibentuk di luar keraton terinspirasi dari dalam keraton, namun terdapat variasi dalam penerapannya  yang membuatnya berbeda dari segi pola hias. , isen-isen dan komposisi warna.  Pada pertengahan abad ke-19, ketika permintaan batik semakin meningkat, muncul  teknik membatik baru  yaitu cap. Teknik cap ini sangat  membantu para pembatik manual dengan mempercepat proses membatik sehingga harga jual kain batik tidak terlalu mahal.  Sementara kain batik terus berkembang,  orang Indonesia  berpakaian  sesuai dengan keadaan dengan pelan-pelan mulai berubah, alias sedikit banyak mempengaruhi posisi kain batik di masyarakat. Selama era kekuasaan VOC,  hanya  orang Eropa yang diizinkan mengenakan pakaian Barat (Eropa). Untuk rakyat biasa  , VOC mengeluarkan peraturan yang memaksa masyarakat untuk tetap mengenakan "busana nasional". Tujuan dari kebijakan ini  jelas, yaitu untuk memudahkan identitas seseorang yang mungkin menyamar demi kepentingan sendiri, karena  dari pakaian sangat terlihat jelas  dari luar tanpa melakukan pengecekkan  sehingga aman tanpa melibatkan  aparat setempat.

Gambar : Google

“Pakaian nasional” yang dimaksud adalah busana adat tradisional masing-masing daerah. Di Jawa, kain batik berupa kain  yang digunakan sebagai jarit. Aturan berpakaian ini dapat  lebih mudah diterapkan di daerah-daerah VOC seperti Batavia (Jakarta), tetapi lebih sulit  diterapkan di tempat lain, terutama VOC memiliki banyak kepentingan. Contoh ekstrem adalah Amangkurat II, yang digambarkan dalam Babad Tanah Jawi sebagai salah satu kaum elit pertama yang mengadopsi pakaian Barat. Belakangan, cara berpakaian tradisional perlahan berubah, pakaian elit keraton mulai beradaptasi dengan pengaruh asing, gaya Eropa dan Islami seperti  kemeja dan jas menjadi beskap (berasal dari "beschaafd", artinya "beradab") dan surjan. . Pakaian daerah hasil adaptasi ini kemudian banyak digunakan dalam acara-acara publik seperti pertemuan bersama, sedangkan budaya Jawa terus digunakan dalam upacara-upacara keraton. Meskipun keraton mengadopsi unsur-unsur budaya lain, namun tidak pernah kehilangan peran sebagai penjaga kebudayaan Jawa.

Menjelang abad ke-19, terlepas dari upaya Belanda untuk mempertahankan cara berpakaian kalangan sendiri  serta ketidak inginan  orang Indonesia  meninggalkan adat mereka, adat Eropa, terutama dalam pakaian, menyebar luar batas kaum elit  Indonesia. Perubahan ini paling jelas terlihat di kalangan pria. Dimana pakaian Barat memiliki arti "kemajuan" dan "modernitas" khususnya di  kalangan pelajar, guru, pegawai kantor hingga  penjabat penting  Penggunaan kain batik  mulai berubah dan digantikan dengan celana panjang. "Westernisasi" pakaian ini berlanjut dan memuncak pada tahun 1950-an. Sukarno sendiri, sebagai presiden, menekankan peci sebagai “identitas” nasional bangsa Indonesia. Demi persatuan Indonesia, ia sengaja  tidak pernah memakai batik atau sarung. Namun, pemikiran Sukarno sangat berbeda dengan pakaian nasional wanita; kain batik kebaya adalah pakaian yang sempurna karena mencerminkan akar tradisional. Ringkasnya, Sukarno menginginkan busana pria dan wanita Indonesia mewakili hati dimana adanya  "kemajuan yang berakar pada tradisi dan modernitas". Karena kecintaannya pada pakaian kebaya dan  rasa nasionalisme, Soekarno kemudian menerapkan “persatuan” dengan menggunakan kain batik sebagai media dan kultur khas dari Indonesia . Sekitar tahun 1950 “batik Indonesia” lahir dan berciri khas menggabungkan desain pola dekoratif (beragam) batik keraton dengan proses pewarnaan batik pesisir. Konsep batik Indonesia mendapat tanggapan yang baik dari para seniman batik, di antaranya Ibu Soed tampil dengan anggun menggunakan model batik "Terang Bulan", Ibu Sakrie, Ibu Setyowati dan KRT Hardjonagoro (Go Tik Swan). Sampai saat itu jarang sekali orang yang membatik memotong dijadikan busana untuk dijual , kecuali untuk kebutuhan sendiri dan dipakai di rumah. Baru setelah Ali Sadikin sebagai gubernur Jakarta pada tanggal 14 Juli 1972 menetapkan  batik sebagai pakaian resmi pria di wilayah DKI Jakarta,  terjadi gelombang besar yang  mengubah sikap masyarakat Indonesia terhadap batik. Baru setelah kain batik mulai terlihat potensinya sebagai tekstil yang bisa digunakan tidak hanya untuk pakaian barat, tapi juga untuk dekorasi rumah. Perkembangan batik terus berlanjut hingga kini dengan unsur estetika dan teknik produksi yang modern.

Gambar: Google

Pasangan Muda Penjual Batik 

Salah satu  perjalanan batik di Indonesia yang sudah merdeka yaitu pasangan muda  atas nama Santosa Doellah dan Danarsih Hadiprijono resmi membuka perusahaan  bernama Danar Hadi pada tahun 1967, tahun itu industri batik di Solo, Jawa Tengah  baru mulai merangkak setelah tahun 1965 mengalami penurunan dari warga sekitar. Sebagai informasi  Bapak Hj. Santosa Doellah  lahir pada tanggal 7 Desember 1941 dan meninggal pada tanggal 2 Agustus 2021. Bapak Hj. Santosa Doellah meraih gelar Sarjana Ekonomi  (S.E.) dari Universitas Padjadjaran. Meski kondisi untuk membatik tidak terlalu mendukung, pasangan yang  menikah tahun 1967 tetap  memutuskan untuk membuka perusahaan batik.

Gambar: Google

Keputusan untuk meluncurkan merek "Danar Hadi" tidak diambil secara gegabah, melainkan  keputusan yang mencerminkan pengalaman generasi keluarga dalam bisnis batik  Surakarta. Danarsih lahir dari pasangan Soemarti dan Soenardi Hadiprijono, putri keempat dari lima bersaudara, pada tanggal 26 September 1946. Orangtuanya memiliki usaha batik yang dijual dan diproduksi di Kauman, yang kemudian pindah ke Kabupaten Bhayangkara. Danarsih tumbuh dan berkembang begitu dekat dengan segala hal yang berhubungan dengan batik. Keingintahuannya akan kehalusan tekstur kain batik  dan corak warna   sangat besar, terutama ia menyukai fashion . Sejak kecil dia senang sekali berganti model pakaian, (menolak memakai pakaian yang sama) dengan tidak  membeli baju baru melainkan memodifikasi pakaian yang ada.

Dia meminta tolong kakaknya yang pandai  menjahit serta kreatif  untuk mengubah keadaan agar pakaian lama selalu terlihat seperti baru. Sebagai informasi dari mimin Ibu Danarsih Hadiprijono pernah berkuliah Universitas Gajah Mada dengan mengambil Fakultas Teknik Kimia tetapi  menolak  melanjutkan kuliahnya karena merasa ingin mengetahui lebih banyak lagi  hal-hal yang berhubungan dengan batik. Orang tuanya tidak melarang karena melihat putri mereka sangat tertarik untuk berjualan batik.  Santosa Doellah, yang sebenarnya adalah keluarga  Danarsih, juga dibesarkan dalam keluarga yang sudah memiliki  empat generasi  berkecimpung dalam industri perbatikkan . Ia lahir dari pasangan suami istri Nama keluarga Dr. Doellah dan Fatimah Wongsodimo .

Karena ibunya meninggal muda, Santosa diasuh oleh kakeknya, Raden Wongsodinomo, yang  sudah menjadi  saudagar batik yang disegani di Surakarta dan  salah satu orang yang aktif ikut mendirikan koperasi untuk para pembatik (karyawan) sejak tahun 1937 , di bawah bimbingan kakeknya banyak belajar tentang batik, mulai dari dekorasi, proses dan teknik pembuatan kain kraton yang berkualitas hingga kain batik yang berkualitas untuk sudagar (kalangan ekonomi keatas ). Danar Hadi memulai usahanya dengan 20 pembatik. Produk awalnya sebagian besar adalah kain yarit gaya Wonogiren yang  dikenakan oleh wanita-wanita anggun Tanah Air . Kain Danar Hadi juga semakin diminati oleh pelanggan yang datang membeli dari toko fashion ternama saat itu. Selain menyediakan tempat sebagai transaksi jual beli, toko Danar Hadi membedakan pakaian produk sendiri dengan pakaian lain dari mereka kaum pengusaha yang bekerjasama,  Alasannya sederhana, menurut Santosa, namanya kurang komersil untuk menjadi merek dagang batik. Nama Danarsih Hadiprijono menurutnya lebih feminin dan cocok, untuk  kain batik. Maka diputuskanlah nama Danar Hadi untuk menjadi identitas merek baju mereka.

Gambar:Google

Selain batik tulis, Danar Hadi juga berkarya dengan batik cap. Dalam beberapa tahun, mereka  mempekerjakan hampir 1.000 pengrajin batik di dua pabrik. Ketika mendengar kata batik “pabrik”, jangan membayangkan segala sesuatu yang modern atau mesin-mesin yang bergerak sendiri. Pabrik batik sebenarnya lebih merupakan pertapaan raksasa yang menampung ratusan orang yang melakukan hal yang sama yaitu membatik dengan cara ditulis atau dicap, dicelup, dan dimasak untuk proses pewarnaan alias masih tradisonal (nglorod). Suasana kerja di Perusahaan tersebut sangat kuat akan  keluargaan alias tidak membedakan antara karyawan lainnya dan pemilik memiliki kedekatan sama-sama saling support untuk karyawan yang mayoritas sudah berumur lebih tua. Setiap pembuat batik adalah seniman tradisional yang menghasilkan karya seni fungsional. Berbagai macam pengetahuan dari yang berpengalaman kepada pemula mengalir dengan mudah dari hari ke hari. Artis berkumpul untuk melakukan apa yang mereka sukai, untuk memberikan kepuasan hidup, makna, bukan hanya untuk mencari nafkah. Danar Hadi percaya bahwa dengan mempertahankan suasana kerja  tradisional,  setiap kain batik yang dihasilkan  memiliki nilai tambah.tersendiri dengan keunikan "Pengrajin" dan memilih untuk mempertahankan tidak tergantikan oleh mesin (menjaga kelestarian dengan keunikan). Goresan tangan manusia seakan "berpindah" menjadi komposisi puitis yang indah;  proses memahami budaya dan mengungkapkannya di atas kanvas. Setelah selesai, kain tersebut memiliki cita rasa yang “karismatik”, dan yang terpenting dapat memenuhi selera pasar. Suasana kerja tradisional ini masih dipertahankan. Produk mereka tersedia di toko-toko besar di Solo. Salah satu daerah penghasil banyak produk di Tanah Abang (Jakarta) selain  desainnya yang menarik,  mulai memproduksi batik sablon di atas kain yang lebih halus agar adem dan nyaman saat dipakai. Mereka menerima jumlah pesanan yang cukup besar tanpa uang muka.seiring berjalannya waktu, meski omzetnya cukup tinggi, namun hasil keuntungannya semakin sedikit (turun hingga 50 % dari biasanya). Mendengar kejadian tersebut, Danar Hadi sendiri yang membuka toko pertamanya di Jalan Dr. Rajima nomor 164. Bahkan saat ini, memiliki ratusan seniman batik yang sebagian besar berkumpul di "pertapaan" mereka di Kartasura, kawasan Pabelan.


Gambar : Google

Di tengah suasana kerja tradisional, para seniman batik duduk bersama sesuai dengan keahliannya berkerja dengan menggambar di kain batik menggunakan canting serta malam (lilin).  Banyaknya ilmu yang didapatkan  berlangsung dipraktikan dari  senior ke junior tanpa perintah atau paksaan. Konservasi dan pembangunan berjalan beriringan. Banyak  seniman batik yang sudah  puluhan tahun bekerja dan merupakan orang-orang terpercaya yang dianggap mampu mewujudkan konsep desain menjadi produk akhir. Seiring perkembangan teknologi, begitu pula teknik membatik. Sekarang sulit bagi mata orang awam untuk membedakan antara "batik dengan kombinasi bias dan cap" atau "cetak sutra dan bias dihilangkan dari batik". Tujuan dari penggabungan teknik membatik yang berbeda tidak hanya untuk  mempersingkat waktu proses membatik, tetapi terutama untuk membuka pandangan terhadap desain pola  batik yang berbeda sehingga dapat menghasilkan batik pamungkas yang bernuansa “batik Indonesia” dan memenuhi kebutuhan. Penjualan dicoba kepasar luar negeri (ekspor). 




Gambar :Google

Setelah berhasil mendirikan perusahaan batik, batik  menjadi master di Indonesia dengan adanya Hari Batik Nasional disetiap tanggal 2 Oktober,  bahkan membuat batik dari pakaian resmi negara membuat  permintaan batik dan membuat pasar juga tumbuh semakin membaik.  Tujuannya yaitu imgin Batik  menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia agar tidak luntur salah satu kebudayaannya . Batik harus terjangkau dan bisa diproduksi dalam jumlah banyak. Masalahnya, tentu  seperti  di awal cerita,  batik membutuhkan bahan baku salah satunya kain mori harus mencukupi. Santosa Doellah memahami masalah  tersebut saat  mulai terjun ke dunia fashion. Maka pada akhir tahun 1970-an, ia memutuskan untuk membuka pabrik baru dimana akan digunakan khusus memproduksi kain mori sebagai salah satu  bahan baku batik dengan nama PT Kusumahadi Santosa.

Berikut dokumentasi yang mimin dapatkan 

1. Toko Batik Danar Hadi 

Gambar : Google

Gambar: Google

Gambar :Google

2. Tempat Produksi pembuatan batik Danar Hadi

Gambar:Google


Gambar:Google

Gambar:Google


Gambar : Google

 3. PT Kusumahadi Santosa (Tempat produksi bahan baku kain batik Danar Hadi


Gambar :Google

Wah sungguh luar biasa ya pengorbanan dalam memperkenalkan batik agar tidak usang sesuai dengan zaman oleh pasangan muda Santosa Doellah dan Danarsih Hadiprijono. Bagaimana sobat Tique, sudahkah kamu bangga dengan warisan budaya batik asli Indonesia? Semoga dengan artikel ini membuat generasi penerus bangsa seperti generasi X, Y dan Z mau belajar cara menghargai apa saja kain batik dan jangan mengangap menggunakan kain batik hanya untuk orang tua saja tapi jadikan juga fashion anak muda ya. Bagaimana pendapat sobat Tique ? silahkan beri komentar melalui email di 1maculata.batique@gmail.com atau tulis aja di kolom komentar. Terima kasih banyak sobat Tique, sampai jumpa kembali!. 

Sebagai perhatian juga dari mimin kepada sobat Tique bahwa ini artikel mimin buat tanpa adanya sponsor dari pihak manapun ya, alias murni untuk pengetahuan bagaimana dulu kain batik memiliki nilai yang tinggi karena proses dan makna dari kain batik sendiri hingga bisa bertahan dan di cap sebagai warisan bangsa Indonesia yang tidak bergerak. 



Jumat, 28 Juli 2023

BATIK ECOPRINT BAHAN MURAH JUAL UNTUNG BESAR

 


Hallo sobat Tique... hari ini mimin akan bahas mengenai apa sih itu ecoprint ..kok bisa ya di jadikan batik ? yuk simak penjelasan mimin ya...

Batik ecoprint ini dapat dijadikan tren gaya hidup masyarakat ramah lingkungan karena batik ecoprint menggunakan bahan dedaunan dan bunga yang berasal dari alam dan sama sekali tidak menggunakan bahan kimia. Produk yang dihasilkan berupa lembaran kain dan produk fashion, memiliki nilai tambah dalam budaya lokal yang ramah lingkungan.

Eco print memiliki arti yaitu eco dari kata ekosistem (alam) dan print yang artinya mencetak. Teknik pewarnaan dalam ecoprint pertama Sesuai dengan namanya, eco dari kata ekosistem (alam) dan print yang artinya mencetak. Teknik pewarnaan ecoprint yang dipelopori oleh India Flint pada tahun 2006. Ecoprint diartikan sebagai proses untuk mentransfer warna dan bentuk ke kain melalui kontak langsung.

Teknik ecoprint yang merupakan perkembangan dari ecofashion, untuk menghasilkan produk fashion yang ramah lingkungan. Seiring berjalannya waktu, teknik natural dye kian berkembang dengan berbagai temuan baru, salah satunya adalah teknik ecoprint.  Proses ecoprint, dikenal dua teknik pewarnaan, yaitu teknik iron blanket dan teknik pounding.

Cara membuat ecoprint metode iron blanket :

1. Melakukan mordanting (pembersihan kain dari kotoran). Proses mordanting ini sama saja seperti mencuci pakaian. Kain harus sudah bersih dan kering.

2.  Setelah kain kering kemudian dilapisi plastik.

3. Siapkan pewarna dari bahan alam dengan merendam dedaunan dalam larutan cuka. Hal ini bertujuan untuk mengeluarkan zat warna pada dedaunan dengan maksimal.

4. Setelah pewarna siap maka bentangkan kain yang sudah dibersihkan dan tempelkan dedaunan yang sudah direndam dengan larutan cuka.

5. Kemudian gulung dengan pipa paralon lalu ikat dengan tali.

6. Setelah kain tergulung dan masuk dalam kuali besar yang telah diikat selama 2 jam saatnya rebus kain.

7. Selesai di rebus dibutuhkan proses fiksasi yaitu untuk mengikat warna agak tidak luntur

Cara membuat ecoprint metode pounding Teknik :

1.  Letakkan dedaunan segar ke permukaan kain.

2. Kain dilapisi plastik lalu dipukul-pukul menggunakan palu agar warna dari daun dapat menyerap ke kain.

3. Setelah itu jemur kain di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering.

4. Sedangkan untuk proses fiksasinya sama seperti teknik iron blanket yaitu direndam dengan air tawas.

Teknik ecoprint diartikan sebagai suatu proses untuk mentransfer warna dan bentuk ke kain melalui kontak langsung. Tanaman yang digunakan pun merupakan tanaman yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap panas, karena hal tersebut merupakan faktor penting dalam mengekstraksi pigmen warna.

Untuk menentukan apakah sebuah tanaman bisa dijadikan pewarna alami dalam ecoprinting atau tidak, kita dapat mengujinya berdasarkan warna, kandungan air dan aroma tanaman. Kandungan air sangat mempengaruhi keberhasilan proses ecoprinting sendiri. 

Ciri -ciri tanaman yang dipakai yaitu:

1. Tanaman beraroma tajam dapat menjadi salah satu indikasi bahwa tanaman tersebut dapat digunakan sebagai pewarna alami.

2. Jika tanaman digosokan kesebuah kain dan meninggalkan noda maka daun tersebut potensial untuk dijadikan pewarna alami. 

3. Apabila daun direndam pada air panas selama 10 menit dan merubah warna pada air tersebut maka tanaman ini juga berpotensi menjadi pewarna alami.

Tanaman yang memiliki kandungan baik untuk ecoprint yaitu daun jati, eucalyptus, stroberi, jambu, pare, pohon Nangka, tanaman bougenfile, daun papaya, daun kelor, daun pakis dan sebagainnya.

Namun dalam proses ecoprint ini tidak semua kain dapat digunakan hanya kain dari serat alam lah yang bisa digunakan. Untuk mengetahui kain yang memiliki serat alami yaitu :

1.  Kain Blacu

    Kain blacu merupakan jenis kain mentah atau greige yang belum melalui proses finishing dan bisa digunakan untuk ecoprint. Sesuai dengan syarat pastikan kain 100% terbuat dari katun agar penyerapan warnanya bisa sempurna dan motif yang dihasilkan lebih maksimal.

     2. Kain Mori 

Kain mori adalah jenis kain balcu yang sudah melalui proses finishing dan pemutihan sehingga kerap sebagai kain pemutihan. Biasanya jenis kain mori bahan batik yang menggunakan 100% katun atau serat alami lainnya. Salah satunya kain mori batu, kain mori prima sampai kain mori primis dengan kualitas premium.

3.  Kain Dobby

Kain dobby bilamana digunakan untuk membuat ecoprint akan menghasilkan karya yang menarik. Karna motifnya yang unik tercipta dari kain tersebut seakan tampak semakin hidup. Jenis kain dobby yang bisa dipilih yaitu dobby full katun, dobby katun rayon atau dobby rayon.

4. Kain Sutra / Sutera

Jika ingin menghasilkan kesan lebih mewah dari produk ecoprint maka menggunakan kain sutra sebagai bahannya. Karena kemampuan baik sutera dalam menyerap warna akan menghasilkan kain ecoprint dengan warna yang tajam. Kain suteranya seperti kain sutera super 54/ 56, sutera kringkel, habotai, thaisilk, organdi

5.  Kain Paris

Kain paris mempunyai ciri khas tidak terlalu tebal. Material kain paris harus dari kategori serat alami. Kain katun paris dan rayon paris yang digunakan untuk ecoprint biasanya untuk produk menjadi jilbab.

6.  Katun sari

Katun sari sebenarnya masih sama dengan kategori kain Paris namun bedanya kain sari memiliki karakter penenunan yang berbeda dan sedikit lebih tipis. Penggunanya sebagai bahan kain ecoprint akan menciptakan kesan etnik. Ecoprint yang dibuat dari kain ini cocok dijadikan scarf atau aksesoris fashion lainnya.

Mimin harap sobat Tique bisa belajar ya bahwa dari alam kita mendapatkan banyak manfaat bilamana  mau menambah ilmu hingga uang jajan salah satunya bermodal kain dan daun maka terjadilah batik ecoprint. Bahan murah untuk membuatnya namun dijual harga bisa sampai ratusan ribu dengan modal kreatif. Maka diharapkan dengan ini juga kita bisa memanfaatkan yang ada di sekitar kita.

Salam semua sobat Tique dari mimin untuk hari ini. Terima kasih.