Tampilkan postingan dengan label Batik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Batik. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Agustus 2024

DARI TANAH LIAT LAHIR BATIK TANAH LIEK, KOK BISA ?!

Hallo sobat Tique... sudah lama hari mimin Tique tidak menyapa dan update berita terkini, mimin Tique mau memberikan informasi mengenai batik. Batik adalah salah satu peninggalan yang banyak orang pakai apalagi dalam fashion serta memiliki banyak motif dan arti dari suku dan budaya yang ada di Indonesia. Sekarang sobat Tique kita akan melihat arti dan motif dari Batik Tanah Liek. Iya batik ”Tanah Liat” kok bisa ??? Berikut penjelasannya.

Sumber : Google
Sejarah

Batik Tanah Liek sempat hilang dari peredaran selama beberapa waktu. Namun, berkat usaha seorang perempuan bernama Hj. Wirda Hanim, batik ini kembali diproduksi dan diperkenalkan kepada masyarakat luas pada tahun 1994. Hj. Wirda Hanim menemukan kembali teknik pembuatan Batik Tanah Liek setelah melihat kain batik ini digunakan oleh masyarakat di daerah Sumanik, Tanah Datar.

Dengan tekad yang kuat, Ibu Hj. Wirda Hanim, berencana melakukan inovasi kain. Sedangkan pengetahuannya tentang batik tidak dimilikinya. Saat itu, ia bertemu dengan guru membatik di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Kota Padang yang kini menjadi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang langsung berkunjung  ke sekolah dan rumahnya, berharap bisa bekerja sama. Namun, guru  hanya membimbing siswanya. Terlepas dari semuanya, Ibu Hj.Wirda Hanim tetap membiayainya, mulai dari membeli batik dan obat-obatan membatik namun hasil dari siswa tersebut tidak memuaskan. Sehingga Ibu Hj.Wirda Hanim tidak melanjutkan kerjasamanya.

Ragam Hias Batik Indonesia: Pesona Batik Tanah Liek dari Minangkabau

Batik, warisan budaya Indonesia yang diakui dunia, memiliki kekayaan motif dan corak yang beragam dari Sabang sampai Merauke. Setiap daerah di Indonesia memiliki ciri khas batiknya masing-masing, salah satunya adalah Batik Tanah Liek yang berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat. Batik Tanah Liek memiliki  Pesona Tanah Liat yang Memikat

Dalam bahasa Minangkabau disebut "batik tanah liek", adalah jenis batik yang unik karena menggunakan tanah liat sebagai pewarna dasarnya. Proses pembuatannya pun terbilang rumit. Kain katun yang akan dijadikan batik direndam dalam air yang dicampur tanah liat selama beberapa hari. Setelah itu, kain dicuci dan diwarnai kembali menggunakan pewarna alami dari tumbuhan seperti jengkol, rambutan, dan gambir. Awalnya batik pengaruh negara Cina ini sempat hilang, tetapi berhasil dihidupkan kembali pada pertengahan tahun 1990-an.

Tahun 1995, atas izin suaminya Ruslan Majid, ia berangkat ke Jogjakarta dengan modal pinjaman sebesar 20 juta rupiah untuk belajar membatik di sana. Dia kembali ke Padang hanya 2 hari kemudian. Selain kesedihan, ia tidak bisa melepaskan ukirannya dan 20 pekerja yang tinggal di rumahnya. Bu Hj. Wirda Hanim meminta kepada Dewan Batik Jogjakarta mengirimkan pengajar batik ke Padang yang beliau kontrak selama 3 bulan. Tapi sebelumnya, bu Hj. Wirda Hanim menitipkan contoh kain Batik Tanah Liek dengan harapan dapat dibuatkan motif dan warna sesuai contoh kain tersebut. Sesampainya di Padang, guru dan pemuda yang dibawa dari Jogjakarta tidak mampu membuat Batik Tanah Liek sesuai pola yang diberikan. Bahkan setelah 2 bulan bekerja bersama di padang, tak ada satupun kain yang bisa menandingi warna kain Batik Tanah Liek.

Karena kegigihannya, ia mengeluarkan banyak uang untuk membeli kain sutra, obat-obatan batik, dan barang peralatan batik, dan ia tidak pernah putus asa. Baru seminggu menjelang berakhirnya kontrak mengajar dari Jogja, Bu Hj. Virda Hanim mengenang bagaimana ia mendekorasi kue warna-warni saat kelas kue pernikahan dan ulang tahun yang ia ikuti di Jakarta. Ia bereksperimen dengan pewarna kimia untuk batik. Ibarat mencari warna yang cocok dengan Batik Tanah Liek, warna bumi (tanah). Di antara 10 lembar kain berukuran masing-masing 2 meter, hanya 2 lembar yang cocok dengan warna batik tanah liek.

Ibu Hj. Wirda Hanim terus bekerja keras dengan eksperimen dan menggaji karyawan khusus batik. Sejak itu, beliau memproduksi Batik Tanah Liek dengan bahan kimia. Sehingga pada saat itu, dinamakanlah merk hasil produksinya Batik Tanah Liek “Citra Monalisa”.

Namun hasilnya tetap sama, batik buatannya terlihat lebih rendah dibandingkan Batik Tanah Liek kuno. Pada suatu ketika, beliau pulang kampung dan bertanya kepada seorang ibu yang ada disana. “Mengapa batik ini disebut batik?” Dan sang ibu menjawab bahwa suku batik itu dilukis di atas tanah dan coraknya pada tumbuhan. Pertanyaannya berlanjut: Tanaman apa yang bisa dicabut? Dan sang ibu langsung menjawab yaitu gambir, rambutan, pinang dan lain-lain. Dengan mengatakan itu, Ibu Hj. Wirda Hanim mencoba mencari tahu tentang struktur dan panjangnya. Akhirnya, setelah 10 tahun mencoba, barulah beliau mendapatkan Batik Tanah Liek sesuai dengan contoh yang ada sekaligus telah dipatenkan dengan nama “Batik Tanah Liek”. Pertamina tempat suaminya meminjamkan modal pada tahun 1997 akhirnya lunas, bantuan pinjaman ini adalah pinjaman pertama untuk eksekusi experimennya,

Sumber: Google
Sampai saat ini Ibu Hj. Wirda Hanim terus mempertahankan Batik Tanah Liek di kediaman dan pamerannya, Jalan Sawahan Dalam, No. 33, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat. Tak hanya itu, berbagai penghargaan telah diperolehnya dari pemerintah maupun swasta, seperti Upakarti Award pada tahun 2006 atas upayanya dalam melestarikan warisan seni dan budaya Indonesia, serta dari MARKPLUS pada tahun 2014 sebagai Marketter of the Year.

Banyak sekali keunikan Batik Tanah Liek, antara lain:

  • Warna Khas: Warna dasar Batik Tanah Liek adalah cokelat tua yang khas dan elegan, hasil dari perendaman dalam tanah liat.
  • Motif Batik Tanah Liek umumnya terinspirasi dari alam sekitar, seperti tumbuhan, hewan, dan bentuk geometri.
  •  Filosofi: Setiap motif pada Batik Tanah Liek memiliki makna filosofis yang mendalam, mencerminkan nilai-nilai luhur masyarakat Minangkabau.

Batik Tanah Liek adalah salah satu contoh kekayaan ragam hias batik Indonesia yang patut kita banggakan. Dengan memahami sejarah dan proses pembuatannya, kita dapat lebih menghargai keindahan dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Mari bersama-sama melestarikan batik Indonesia agar warisan budaya ini tetap hidup dan berkembang. Bagaimana menurut sobat mimin Tique??? masih mau menghilangkan kelestarian dan ciri khas batik tanah liek? jangan ya... jangan...hehehe.  Sobat Tique jangan lupa untuk beri komentar serta jawabannya kepada mimin ya sobat Tique di alamat email  1maculata.batique@gmail.com atau tulis aja di kolom komentar. Terima kasih banyak sobat Tique, sampai jumpa kembali! Jangan lupa untuk terus ikuti berita terupdate nya ya… 

Selasa, 22 Agustus 2023

PASANGAN MUDA !! PENJUAL KAIN BATIK

Hallo selamat datang bersama mimin Tique. Hari ini kita akan membahas mengenai pasangan muda yang berhasil memperkenalkan batik sebagai identitas negara Indonesia salah satunya dengan menjualkan kepada masyarakat Indonesia hingga luar negeri loh...penasaran ??? yuk simak penjelasannya 

Asal Usul Batik

Batik adalah salah satu budaya Jawa yang paling berharga. Asal mulanya masih diperdebatkan, namun yang pasti kain batik mencapai puncak "kesempurnaannya" di tanah Jawa. Sejarah batik  Indonesia tidak terlalu tua, diperkirakan baru mulai berkembang pada abad ke-17, namun batik  masih dapat eksis dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia bahkan salah satunya menjadi model baju baik seragam anak sekolah hingga fashion busana. Tidak pernah menjadi tua (usang), seiring  waktu terus berjalan dan menjadi lebih modern. Untuk pertama kali berkembang pesat dari istana (keraton) dengan desain dekoratif alias beragam motif yang dipengaruhi oleh zaman Hindu   di pulau Jawa. Setiap lembaraan kain terutama yang sering digunakan yaitu pakaian batik memiliki makna yang lebih luas serta mendalam bukan sekedar kain penutup tubuh, tetapi yang lebih penting lagi, penataan yang beragam hias dan pewarnaan merupakan perpaduan antara seni, adat istiadat, sikap  dalam hal pandangan hidup dan kepribadian. lingkungan yang melahirkannya, yaitu lingkungan keraton.

Gambar : Google

Dekorasi keraton dirancang khusus  hanya untuk raja dan keturunannya  langsung , seperti motif kawung, lereng dan parang-parangan.  Seiring berjalannya waktu, kain batik mulai tersebar di luar lingkungan keraton. Pola  hias khusus raja dan keluarganya menjadi “pola larangan”, sehingga kain batik yang dibentuk di luar keraton terinspirasi dari dalam keraton, namun terdapat variasi dalam penerapannya  yang membuatnya berbeda dari segi pola hias. , isen-isen dan komposisi warna.  Pada pertengahan abad ke-19, ketika permintaan batik semakin meningkat, muncul  teknik membatik baru  yaitu cap. Teknik cap ini sangat  membantu para pembatik manual dengan mempercepat proses membatik sehingga harga jual kain batik tidak terlalu mahal.  Sementara kain batik terus berkembang,  orang Indonesia  berpakaian  sesuai dengan keadaan dengan pelan-pelan mulai berubah, alias sedikit banyak mempengaruhi posisi kain batik di masyarakat. Selama era kekuasaan VOC,  hanya  orang Eropa yang diizinkan mengenakan pakaian Barat (Eropa). Untuk rakyat biasa  , VOC mengeluarkan peraturan yang memaksa masyarakat untuk tetap mengenakan "busana nasional". Tujuan dari kebijakan ini  jelas, yaitu untuk memudahkan identitas seseorang yang mungkin menyamar demi kepentingan sendiri, karena  dari pakaian sangat terlihat jelas  dari luar tanpa melakukan pengecekkan  sehingga aman tanpa melibatkan  aparat setempat.

Gambar : Google

“Pakaian nasional” yang dimaksud adalah busana adat tradisional masing-masing daerah. Di Jawa, kain batik berupa kain  yang digunakan sebagai jarit. Aturan berpakaian ini dapat  lebih mudah diterapkan di daerah-daerah VOC seperti Batavia (Jakarta), tetapi lebih sulit  diterapkan di tempat lain, terutama VOC memiliki banyak kepentingan. Contoh ekstrem adalah Amangkurat II, yang digambarkan dalam Babad Tanah Jawi sebagai salah satu kaum elit pertama yang mengadopsi pakaian Barat. Belakangan, cara berpakaian tradisional perlahan berubah, pakaian elit keraton mulai beradaptasi dengan pengaruh asing, gaya Eropa dan Islami seperti  kemeja dan jas menjadi beskap (berasal dari "beschaafd", artinya "beradab") dan surjan. . Pakaian daerah hasil adaptasi ini kemudian banyak digunakan dalam acara-acara publik seperti pertemuan bersama, sedangkan budaya Jawa terus digunakan dalam upacara-upacara keraton. Meskipun keraton mengadopsi unsur-unsur budaya lain, namun tidak pernah kehilangan peran sebagai penjaga kebudayaan Jawa.

Menjelang abad ke-19, terlepas dari upaya Belanda untuk mempertahankan cara berpakaian kalangan sendiri  serta ketidak inginan  orang Indonesia  meninggalkan adat mereka, adat Eropa, terutama dalam pakaian, menyebar luar batas kaum elit  Indonesia. Perubahan ini paling jelas terlihat di kalangan pria. Dimana pakaian Barat memiliki arti "kemajuan" dan "modernitas" khususnya di  kalangan pelajar, guru, pegawai kantor hingga  penjabat penting  Penggunaan kain batik  mulai berubah dan digantikan dengan celana panjang. "Westernisasi" pakaian ini berlanjut dan memuncak pada tahun 1950-an. Sukarno sendiri, sebagai presiden, menekankan peci sebagai “identitas” nasional bangsa Indonesia. Demi persatuan Indonesia, ia sengaja  tidak pernah memakai batik atau sarung. Namun, pemikiran Sukarno sangat berbeda dengan pakaian nasional wanita; kain batik kebaya adalah pakaian yang sempurna karena mencerminkan akar tradisional. Ringkasnya, Sukarno menginginkan busana pria dan wanita Indonesia mewakili hati dimana adanya  "kemajuan yang berakar pada tradisi dan modernitas". Karena kecintaannya pada pakaian kebaya dan  rasa nasionalisme, Soekarno kemudian menerapkan “persatuan” dengan menggunakan kain batik sebagai media dan kultur khas dari Indonesia . Sekitar tahun 1950 “batik Indonesia” lahir dan berciri khas menggabungkan desain pola dekoratif (beragam) batik keraton dengan proses pewarnaan batik pesisir. Konsep batik Indonesia mendapat tanggapan yang baik dari para seniman batik, di antaranya Ibu Soed tampil dengan anggun menggunakan model batik "Terang Bulan", Ibu Sakrie, Ibu Setyowati dan KRT Hardjonagoro (Go Tik Swan). Sampai saat itu jarang sekali orang yang membatik memotong dijadikan busana untuk dijual , kecuali untuk kebutuhan sendiri dan dipakai di rumah. Baru setelah Ali Sadikin sebagai gubernur Jakarta pada tanggal 14 Juli 1972 menetapkan  batik sebagai pakaian resmi pria di wilayah DKI Jakarta,  terjadi gelombang besar yang  mengubah sikap masyarakat Indonesia terhadap batik. Baru setelah kain batik mulai terlihat potensinya sebagai tekstil yang bisa digunakan tidak hanya untuk pakaian barat, tapi juga untuk dekorasi rumah. Perkembangan batik terus berlanjut hingga kini dengan unsur estetika dan teknik produksi yang modern.

Gambar: Google

Pasangan Muda Penjual Batik 

Salah satu  perjalanan batik di Indonesia yang sudah merdeka yaitu pasangan muda  atas nama Santosa Doellah dan Danarsih Hadiprijono resmi membuka perusahaan  bernama Danar Hadi pada tahun 1967, tahun itu industri batik di Solo, Jawa Tengah  baru mulai merangkak setelah tahun 1965 mengalami penurunan dari warga sekitar. Sebagai informasi  Bapak Hj. Santosa Doellah  lahir pada tanggal 7 Desember 1941 dan meninggal pada tanggal 2 Agustus 2021. Bapak Hj. Santosa Doellah meraih gelar Sarjana Ekonomi  (S.E.) dari Universitas Padjadjaran. Meski kondisi untuk membatik tidak terlalu mendukung, pasangan yang  menikah tahun 1967 tetap  memutuskan untuk membuka perusahaan batik.

Gambar: Google

Keputusan untuk meluncurkan merek "Danar Hadi" tidak diambil secara gegabah, melainkan  keputusan yang mencerminkan pengalaman generasi keluarga dalam bisnis batik  Surakarta. Danarsih lahir dari pasangan Soemarti dan Soenardi Hadiprijono, putri keempat dari lima bersaudara, pada tanggal 26 September 1946. Orangtuanya memiliki usaha batik yang dijual dan diproduksi di Kauman, yang kemudian pindah ke Kabupaten Bhayangkara. Danarsih tumbuh dan berkembang begitu dekat dengan segala hal yang berhubungan dengan batik. Keingintahuannya akan kehalusan tekstur kain batik  dan corak warna   sangat besar, terutama ia menyukai fashion . Sejak kecil dia senang sekali berganti model pakaian, (menolak memakai pakaian yang sama) dengan tidak  membeli baju baru melainkan memodifikasi pakaian yang ada.

Dia meminta tolong kakaknya yang pandai  menjahit serta kreatif  untuk mengubah keadaan agar pakaian lama selalu terlihat seperti baru. Sebagai informasi dari mimin Ibu Danarsih Hadiprijono pernah berkuliah Universitas Gajah Mada dengan mengambil Fakultas Teknik Kimia tetapi  menolak  melanjutkan kuliahnya karena merasa ingin mengetahui lebih banyak lagi  hal-hal yang berhubungan dengan batik. Orang tuanya tidak melarang karena melihat putri mereka sangat tertarik untuk berjualan batik.  Santosa Doellah, yang sebenarnya adalah keluarga  Danarsih, juga dibesarkan dalam keluarga yang sudah memiliki  empat generasi  berkecimpung dalam industri perbatikkan . Ia lahir dari pasangan suami istri Nama keluarga Dr. Doellah dan Fatimah Wongsodimo .

Karena ibunya meninggal muda, Santosa diasuh oleh kakeknya, Raden Wongsodinomo, yang  sudah menjadi  saudagar batik yang disegani di Surakarta dan  salah satu orang yang aktif ikut mendirikan koperasi untuk para pembatik (karyawan) sejak tahun 1937 , di bawah bimbingan kakeknya banyak belajar tentang batik, mulai dari dekorasi, proses dan teknik pembuatan kain kraton yang berkualitas hingga kain batik yang berkualitas untuk sudagar (kalangan ekonomi keatas ). Danar Hadi memulai usahanya dengan 20 pembatik. Produk awalnya sebagian besar adalah kain yarit gaya Wonogiren yang  dikenakan oleh wanita-wanita anggun Tanah Air . Kain Danar Hadi juga semakin diminati oleh pelanggan yang datang membeli dari toko fashion ternama saat itu. Selain menyediakan tempat sebagai transaksi jual beli, toko Danar Hadi membedakan pakaian produk sendiri dengan pakaian lain dari mereka kaum pengusaha yang bekerjasama,  Alasannya sederhana, menurut Santosa, namanya kurang komersil untuk menjadi merek dagang batik. Nama Danarsih Hadiprijono menurutnya lebih feminin dan cocok, untuk  kain batik. Maka diputuskanlah nama Danar Hadi untuk menjadi identitas merek baju mereka.

Gambar:Google

Selain batik tulis, Danar Hadi juga berkarya dengan batik cap. Dalam beberapa tahun, mereka  mempekerjakan hampir 1.000 pengrajin batik di dua pabrik. Ketika mendengar kata batik “pabrik”, jangan membayangkan segala sesuatu yang modern atau mesin-mesin yang bergerak sendiri. Pabrik batik sebenarnya lebih merupakan pertapaan raksasa yang menampung ratusan orang yang melakukan hal yang sama yaitu membatik dengan cara ditulis atau dicap, dicelup, dan dimasak untuk proses pewarnaan alias masih tradisonal (nglorod). Suasana kerja di Perusahaan tersebut sangat kuat akan  keluargaan alias tidak membedakan antara karyawan lainnya dan pemilik memiliki kedekatan sama-sama saling support untuk karyawan yang mayoritas sudah berumur lebih tua. Setiap pembuat batik adalah seniman tradisional yang menghasilkan karya seni fungsional. Berbagai macam pengetahuan dari yang berpengalaman kepada pemula mengalir dengan mudah dari hari ke hari. Artis berkumpul untuk melakukan apa yang mereka sukai, untuk memberikan kepuasan hidup, makna, bukan hanya untuk mencari nafkah. Danar Hadi percaya bahwa dengan mempertahankan suasana kerja  tradisional,  setiap kain batik yang dihasilkan  memiliki nilai tambah.tersendiri dengan keunikan "Pengrajin" dan memilih untuk mempertahankan tidak tergantikan oleh mesin (menjaga kelestarian dengan keunikan). Goresan tangan manusia seakan "berpindah" menjadi komposisi puitis yang indah;  proses memahami budaya dan mengungkapkannya di atas kanvas. Setelah selesai, kain tersebut memiliki cita rasa yang “karismatik”, dan yang terpenting dapat memenuhi selera pasar. Suasana kerja tradisional ini masih dipertahankan. Produk mereka tersedia di toko-toko besar di Solo. Salah satu daerah penghasil banyak produk di Tanah Abang (Jakarta) selain  desainnya yang menarik,  mulai memproduksi batik sablon di atas kain yang lebih halus agar adem dan nyaman saat dipakai. Mereka menerima jumlah pesanan yang cukup besar tanpa uang muka.seiring berjalannya waktu, meski omzetnya cukup tinggi, namun hasil keuntungannya semakin sedikit (turun hingga 50 % dari biasanya). Mendengar kejadian tersebut, Danar Hadi sendiri yang membuka toko pertamanya di Jalan Dr. Rajima nomor 164. Bahkan saat ini, memiliki ratusan seniman batik yang sebagian besar berkumpul di "pertapaan" mereka di Kartasura, kawasan Pabelan.


Gambar : Google

Di tengah suasana kerja tradisional, para seniman batik duduk bersama sesuai dengan keahliannya berkerja dengan menggambar di kain batik menggunakan canting serta malam (lilin).  Banyaknya ilmu yang didapatkan  berlangsung dipraktikan dari  senior ke junior tanpa perintah atau paksaan. Konservasi dan pembangunan berjalan beriringan. Banyak  seniman batik yang sudah  puluhan tahun bekerja dan merupakan orang-orang terpercaya yang dianggap mampu mewujudkan konsep desain menjadi produk akhir. Seiring perkembangan teknologi, begitu pula teknik membatik. Sekarang sulit bagi mata orang awam untuk membedakan antara "batik dengan kombinasi bias dan cap" atau "cetak sutra dan bias dihilangkan dari batik". Tujuan dari penggabungan teknik membatik yang berbeda tidak hanya untuk  mempersingkat waktu proses membatik, tetapi terutama untuk membuka pandangan terhadap desain pola  batik yang berbeda sehingga dapat menghasilkan batik pamungkas yang bernuansa “batik Indonesia” dan memenuhi kebutuhan. Penjualan dicoba kepasar luar negeri (ekspor). 




Gambar :Google

Setelah berhasil mendirikan perusahaan batik, batik  menjadi master di Indonesia dengan adanya Hari Batik Nasional disetiap tanggal 2 Oktober,  bahkan membuat batik dari pakaian resmi negara membuat  permintaan batik dan membuat pasar juga tumbuh semakin membaik.  Tujuannya yaitu imgin Batik  menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia agar tidak luntur salah satu kebudayaannya . Batik harus terjangkau dan bisa diproduksi dalam jumlah banyak. Masalahnya, tentu  seperti  di awal cerita,  batik membutuhkan bahan baku salah satunya kain mori harus mencukupi. Santosa Doellah memahami masalah  tersebut saat  mulai terjun ke dunia fashion. Maka pada akhir tahun 1970-an, ia memutuskan untuk membuka pabrik baru dimana akan digunakan khusus memproduksi kain mori sebagai salah satu  bahan baku batik dengan nama PT Kusumahadi Santosa.

Berikut dokumentasi yang mimin dapatkan 

1. Toko Batik Danar Hadi 

Gambar : Google

Gambar: Google

Gambar :Google

2. Tempat Produksi pembuatan batik Danar Hadi

Gambar:Google


Gambar:Google

Gambar:Google


Gambar : Google

 3. PT Kusumahadi Santosa (Tempat produksi bahan baku kain batik Danar Hadi


Gambar :Google

Wah sungguh luar biasa ya pengorbanan dalam memperkenalkan batik agar tidak usang sesuai dengan zaman oleh pasangan muda Santosa Doellah dan Danarsih Hadiprijono. Bagaimana sobat Tique, sudahkah kamu bangga dengan warisan budaya batik asli Indonesia? Semoga dengan artikel ini membuat generasi penerus bangsa seperti generasi X, Y dan Z mau belajar cara menghargai apa saja kain batik dan jangan mengangap menggunakan kain batik hanya untuk orang tua saja tapi jadikan juga fashion anak muda ya. Bagaimana pendapat sobat Tique ? silahkan beri komentar melalui email di 1maculata.batique@gmail.com atau tulis aja di kolom komentar. Terima kasih banyak sobat Tique, sampai jumpa kembali!. 

Sebagai perhatian juga dari mimin kepada sobat Tique bahwa ini artikel mimin buat tanpa adanya sponsor dari pihak manapun ya, alias murni untuk pengetahuan bagaimana dulu kain batik memiliki nilai yang tinggi karena proses dan makna dari kain batik sendiri hingga bisa bertahan dan di cap sebagai warisan bangsa Indonesia yang tidak bergerak. 



Rabu, 09 Agustus 2023

BAHAGIA !! BATIK KHAS INDONESIA KESAYANGAN KACA INTERNASIONAL

Hallo selamat datang bersama mimin Tique. Hari ini kita akan membahas mengenai banyak sumber daya manusia di Indonesia memiliki minat rendah dalam hal kebudayaan batik sedangkan sumber daya manusia di luar negeri (turis) begitu menyukai batik sebagai salah satu kain dimana bisa di gunakan dalam fashion. Kok bisa ?? yuk kita bahas apa saja motif batik sendiri dan mengapa masyarakat Indonesia kurang meminati.

Banyak variasi motif batik yang berbeda di setiap daerah di Indonesia. Kualitas artistik yang indah dari setiap desain batik menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Memang setiap motif batik memiliki arti, ciri dan budaya tersendiri. Meski kerap dijadikan bahan dalam perebutan warisan budaya, kain batik tradisional memiliki nilai budaya yang luar biasa di samping identitas negara Indonesia.

Meski kurang diminati oleh masyarakatnya sendiri, ternyata kain batik Indonesia di luar negeri sangat diapresiasi, dicintai, hingga dicari-cari. Menetapkan kain batik Indonesia sebagai “Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity”, yaitu pengakuan internasional bahwa kain batik Indonesia merupakan bagian dari kekayaan peradaban manusia. Sejak dikenalnya kain batik Indonesia semakin populer di dunia internasional pada tanggal 2 Oktober 2009 oleh UNESCO hingga sekarang.

Salah satu alasan para turis menyukai batik Indonesia dari pada batik Tiongkok dan Malaysia adalah batik Tiongkok dan Malaysia tentunya sangat berbeda. Batik buatan Tiongkok kebanyakan dicetak dan memiliki satu motif yang kurang berkembang sehingga tidak memiliki keistimewaan. Sedangkan Malaysia, membuat batik dengan cara seperti menggambar, bukan membatik dengan seperti cara yang dilakukan pengrajin Indonesia.

Sejarah dari kata nama batik yang berasal dari bahasa Jawa yaitu “Ambhatik” terdiri dari kata “Amba” yang berarti lebar, permukaan luas kain dan kata “Bhatik” yang berarti titik atau matik dimana dimulainya melakukan pemotifan awal mendesain. Awalnya, batik banyak digunakan untuk acara-acara formal. Namun seiring dengan berjalannya waktu, desainer Indonesia mulai berinovasi untuk membuat pakaian casual (santai) dengan menggunakan kain batik atau hanya menyertakan beberapa corak dari motif batik. Para peminatnya pun berasal dari banyak kalangan usia dan kewarganegaraan. Terbukti dengan tembusnya sepanjang tahun 2020 yang dipaparkan oleh kemenperin bahwa nilai ekspor dari industri batik yang mencapai US$533 juta atau sekitar Rp7,60 triliun.

Salah satu daya tarik batik adalah corak serta motifnya yang bervariasi. Motif batik merupakan corak atau pola gambar yang membentuk satu kesatuan, dapat berupa geomatris, bentuk lainnya yang memiliki kesatuan serta hewan, manusia serta tumbuhan. Penciptaan pola batik didasarkan pada budaya suatu daerah yang signifikan dan cerita-cerita di dalamnya. Corak yang termasuk dalam batik ini bisa dikatakan mewakili identitas dan karakter suatu daerah. Hingga saat ini , terdapat ratusan motif batik yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Beberapa di antaranya sering kita jumpai sehari-hari. Berikut beberapa  motif batik di Indonesia :

1. Batik Tujuh Rupa (Pekalongan)

Pekalongan merupakan salah satu daerah yang dikenal sebagai sentra produksi batik. Ada berbagai motif model batik yang diproduksi di daerah ini. Ciri khas motif batik Pekalongan didominasi oleh tumbuhan dan hewan. Warna kain batik Pekalongan juga berbeda-beda, kebanyakan diantaranya mendominasi warna cerah dan menonjol (mencolok). Motif ini merupakan percampuran antara kebudayaan lokal dengan etnis China dikarenakan Pekalongan pada zaman dahulu merupakan tempat dimana para pedagang dari berbagai negara melakukan transit. Batik yang terdiri dari motif jlamprang, buketan, terang bulan, semen, pisan bali, serta lung-lungan merupakan motif dari adanya akulturasi budaya hingga membuatnya terlihat khas dengan alam. Batik asal Pekalongan ini memiliki makna nuansa yang lembut (kelembutan) dan menggambarkan kehidupan masyarakat pesisir Jawa yang mampu beradaptasi dengan budaya asing.

Gambar : Google

2. Batik Bali

Batik Bali adalah salah satu batik dengan motif yang sangat unik. Karena motif batiknya merupakan perpaduan antara motif tradisional dan modern (kekinian). Cerita yang terkandung dalam desain batik Bali terutama cerita tentang dewa dan nuansa alam di Bali, seperti bunga kamboja, kembang sepatu, burung, ikan, serta kegiatan sehari-hari masyarakat Bali. Uniknya lagi tidak satu pun dari motif batik Bali ini yang simetris.

Gambar: Google

3. Batik Gentongan (Madura)

Motif batik Madura bercirikan khas pada warnanya yang berani (cerah). Kebanyakan diantaranya memadukan warna hitam dengan warna-warna cerah, seperti merah dan kuning. Warna merah, kuning, hijau, atau ungu adalah warna yang digunakan untuk batik ini. Warna dan corak batik Madura sendiri terinspirasi dari lingkungan alam sekitar , termasuk tumbuh- tumbuhan. Serta mereka menggunakan gentong dari gerabah sebagai wadah untuk mencelupkan kain batik ke dalam cairan warna.

Gambar : Google

4. Batik Cirebon

Motif batik Cirebon terdiri dari dua dimana motif ini adalah yang populer yaitu motif keraton dan pesisir. Motif keraton sering diambil dari  (ornamen) hiasan-hiasan yang ada di keraton dengan warna-warna yang elegan. Sedangkan untuk motif pesisir didominasi oleh unsur tumbuhan dan hewan dengan corak yang lebih terang.

Gambar : Google

5. Batik Kawung (Surakarta)

Motif Kawung berasal dari Yogyakarta dan Surakarta. Motif batik yang dibuat oleh Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma memiliki filosofi yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Motif batik Kawung ini juga didasarkan pada bahan yang diperoleh dari pohon aren serta palem yang buahnya berbentuk bulat, lonjong, berwarna putih jernih atau biasa disebut kolang-kaling. Selain itu motif kawung ini juga indentik dengan  motif sepuluh sen kuno sebab bentuknya yang memiliki lubang di tengah. Motif batik yang semula berbentuk candi kemudian berubah menjadi bentuk buah melambangkan harapan agar masyarakat dapat mengingat asal-usulnya Selain itu, motif ini juga mengandung makna kesucian dan kesempurnaan dengan memperlihatkan atau  mengungkapkan dengan lambang diri yang ideal dan luhur bagi siapa saja yang pemakainya. Kita bisa melihat tersusun pada empat sisi membentuk lingkaran. batik ini berasal dari Jawa Tengah dan juga Yogyakarta dan terus berkembang hingga saat ini.

Gambar : Google

6. Batik Mega Mendung (Cirebon)

Motif kain batik Mega Mendung berasal dari masyarakat daerah Cirebon. Motif ini khas dengan bentuk awan besar berwarna cerah dan mencolok seperti biru, merah tua, ungu, dan hijau tua. Konon, motif ini terinspirasi ketika seseorang melihat bentuk awan pada genangan air setelah hujan saat cuaca mendung. Filosofi motif batik Mega Mendung adalah setiap manusia harus mampu meredam amarah dalam situasi apapun bahkan saat berada dalam kondisi terpuruk, sedih, dan tertekan sekalipun. Batik Mega Mendung termasuk dalam motif batik yang sederhana namun mampu memberikan kesan mewah. Batik ini sangat cocok digunakan oleh semua kalangan mulai dari yang berusia muda hingga orang tua .Begitu juga dengan jenis kelaminnyan (Perempuan atau laki-laki). Hal ini dikarenakan motifnya yang berbentuk mendung di langit mega dengan warna yang cerah.

Gambar : Google

7. Batik Betawi

Keistimewaan batik Betawi terletak pada motif Tumpalnya, yakni motif geometris segitiga sebagai barisan yang menyerupai garis yang memisahkan bagian atas kain dan badan kain. Motif batik Betawi ini merupakan perpaduan antara budaya dari Arab, India, Belanda, dan Cina. Motif ini cenderung  didominasi dengan gambar Ondel-ondel, Rasamala,Salakanegara, Ciliwung, dan Nusa Kelapa. Salah satu motif Ondel-ondel Betawi Loreng mengandung harapan agar pemakainya memperoleh kehidupan yang lebih baik dan Sejahtera serta jauh dari marabahaya.

Gambar : Google

8. Batik Parang Rusak (Pulau Jawa)

Kepopuleran dikalangan pecinta batik yaitu Parang Rusak dimana sebagai salah satu motif batik. Motif ini memiliki makna yang sangat mendalam, yakni peperangan manusia dalam melawan sifat buruk dan nafsu selama hidup. Selain untuk busana, motif ini juga sangat sering digunakan untuk membuat kerajinan berbahan batik. Batik dengan motif ini banyak di sukai oleh seluruh pulau Jawa terkhusus dari  Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Barat. Perbedaan biasanya hanya terletak pada penonjolan (aksen) motif batik parang ini. Misalnya di Jawa Barat memiliki motif parang Klitik, di Yogyakarta menggunakan parang berupa parang patah (rusak) dan parang barong, sedangkan Jawa Tengah menggunakan parang slobog. Keistimewaan desain ini adalah bentuknya yang menyerupai huruf "S" dengan bentuk bergelombang (berombak miring) memanjang sebagai representasi menyerupai bentuk parang.

Gambar : Google

9. Batik Keraton (Yogyakarta)

Motif ini berasal dari budaya Jawa yang terkenal dengan sistem keraton atau ciri khas dari kesultanannya. Pada zaman dahulu, kain batik ini hanya bisa digunakan oleh kalangan kerajaan saja karena corak pada kain tersebut melambangkan kearifan, kebijaksanaan dan juga kharisma raja-raja Jawa. Tetapi seiring berjalannya waktu dan perkembangan masyarakat umum akhirnya bisa dengan bebas menggunakan motif batik keraton. Ciri dari jenis motif ini terdiri dari gambar bunga yang simetris atau sayap burung yang biasa dikenal dengan sebutan motif sawat lar. jenis batik ini merupakan salah satu dari jenis motif batik yang populer orang luar negeri.

Gambar : Google

10. Batik Sogan (Solo)

Motif batik yang berasal dari Solo ini sudah ada sejak beberapa abad yang  dan digunakan oleh nenek moyang orang Jawa. Sebelumnya, batik ini hanya digunakan oleh raja-raja di Jawa, khususnya keraton kerajaan Solo. Tapi sekarang sudah banyak orang awam yang memakai batik jenis ini. Ciri khusus yang dapat dikenali dari Batik Sogan adalah warna coklat yang dominan dan memiliki pola yang khas seperti bunga, titik atau lekungan garis.

Gambar : Google

11. Batik Simbut (Banten)

Memiliki ciri khas dari jenis ini terletak pada bentuk daun yang menyerupai daun talas. Berasal dari suku Badui yang berada di pedalaman Sunda yang terkenal  dengan peradabannya yang panjang. Motif yang mereka buat ini merupakan motif paling sederhana diantara motif batik lainnya dikarenakan hanya menyusun dan merapikan satu jenis motif saja. Namun batik model ini terlihat berkembang di daerah pesisir Banten sejak masyarakat terkhusus suku Baduy menerima adanya modernisasi. Sejak saat itu, batik ini juga dikenal sebagai batik Banten.

Gambar : Google

12. Batik Geblek Renteng (Kulon Progo)

Motif batik ini ada  pada tahun 2012 ketika diadakannya lomba desain batik khas Kulon Progo. Motif batik ini terinspirasi dari makanan khas asal Kulon Progo disebut geblek. Geblek merupakan makanan khas dari olahan berbahan dasar singkong yang memiliki pola bentuk angka delapan. Sedangkan makna dari “Renteng” adalah  ikatan satu sama lain saat makanan tersebut digoreng (singkong Bersatu dengan minyak).


Gambar :Google

13. Batik Pring Sedapur (Magetan)

Motif batik ini terdiri dari gambar bambu. Itulah mengapa batik ini dinamakan  batik Pring. Ciri khas batik ini bisa dilihat dari dari gambarnya yang simple (sederhana) namun  elegan. Batik ini juga mengusung filosofi sederhana dari gambar pohon bambu yang berarti bambu yang memiliki makna ketentraman, keteduhan kerukunan, kedamaian dan keharmonisan.  Bagi orang Jawa sendiri bambu memiliki arti yang cukup dalam, yaitu segala sesuatu yang ada pada diri kita sejak lahir harus bermanfaat bagi orang lain hingga kita mati.

Gambar: Google

14. Batik Priyangan (Tasikmalaya)

Batik priyangan ini berasal dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Nama yang terinspirasi dari bahasa sunda “Priangan” menampilkan desain berbentuk payung, flora dan fauna. Memiliki warna yang cerah seperti merah, biru, dan hijau namun tidak mencolok. Batik ini memiliki kesan cantik, genit dan sedikit centil yang merepresentasikan gambaran umum dari masyarakat Tasikmalaya. Batik ini memiliki pesan agar manusia bisa lebih melestarikan dengan menjaga alam agar tidak punah.

Gambar : Google

Setelah di ketahui dari beberapa motif batik yang ada di Indonesia, motif yang paling populer di luar negeri yaitu :

1.      Batik Mega Mendung (Cirebon)

Gambar : Google

2.      Batik Priyangan (Tasikmalaya)

Gambar : Google

3.      Batik Kawung (Surakarta)

Gambar : Google

4.      Batik Tujuh Rupa (Pekalongan)

Gambar : Google


Bagaimana sobat Tique, sudahkah kamu bangga dengan warisan budaya batik asli Indonesia? Semoga dengan artikel ini membuat generasi penerus bangsa seperti generasi X, Y dan Z mau belajar cara menghargai apa saja peninggalan nenek moyang yang harus kita jaga agar bisa lebih terkenal apalagi di kaca internasional.





Rabu, 02 Agustus 2023

MIRIS !!! GENERASI X, Y DAN Z TERANCAM TIDAK MENEMUKAN KAIN LURIK ASLI

Hallo selamat datang bersama mimin Tique. Hari ini kita akan membahas mengenai Generasi X, Y dan Z tidak semuanya dapat menemukan kain lurik secara nyata mengapa demikian ?? berikut pembahasannya.


Gambar; Google

Sangat sedih bilamana sedikit demi sekikit kearifan lokal kita salah satunya batk Lurik yang beragam motif serta warna harus siap hilang dari permukaan bumi sebab tak ada yang mampu melanjutkan cara mengolahnya.

SEJARAH

Kain lurik adalah salah satu jenis kain tradisional yang berasal dari pulau Jawa tengah daerah penghasil lurik adalah Yogyakarta. Lurik sendiri salah satu pakaian khas selain batik. Kata Lurik berasal dari bahasa jawa yang berarti “Lorek” yang berarti garis-garis. Sederhana dalam penampilan, maupun dalam pembuatan namun sarat dengan makna. Fungsi dari kain lurik selain fashion juga untuk symbol dan ritual keagamaan. Kain lurik ini pertama kali ditemukan di daerah perdesaan Jawa. Kain ini tidak hanya digunakan oleh mayarakat perdesaan setempat melainkan digunakan pula di dalam lingkungan Kerajaan keraton. Dalam motifnya lurik ini yang digunakan untuk kalangan bangsawan berbeda dengan yang di pakai rakyat jelata. Maka motif yang dipakai untuk upacara adat, kain yang dikenankan juga sesuai dengan tujuannya.

Awalnya kain lurik dibuat dalam bentuk sederhana seperti bentuk selendang dimana dipakai untuk kemben ataupun alat untuk menggedong bayi di masa itu. Kain ini juga sudah dikenal sehak zaman Kerajaan Majapahit, relief pada candi Borobudur menggambarkan keberadaan penenun kain lurik dengan alat tenun gedong.

Namun seiring berkembangnya teknologi canggih dan waktu, kain lurik mulai dijahit menjadi pakaian pria atau beskap dan digunakan sebagai jarik atau kebaya bagi wanita. Setelah mengetahui sejarahnya maka demi menjaga dan memperkenalkan kepada beberapa generasi baru kain lurik ini bahkan dijadikan busana sehari-hari di beberapa daerah. Dengan tujuan memperkenalkan bahwa Indonesia memiliki banyak peninggalan dari nenek moyang yang perlu dilestarikan agar tidak punah.

Lurik adalah kain tenun yang berasal dari Jawa Tengah dengan pola dasar berupa garis-garis atau sel berwarna kusam yang sering diselingi dengan benang-benang yang berbeda warna. Kata lurik berasal dari akar kata “rik” yang berarti aliran atau selokan yang diartikan sebagai pagar atau perlindung bagi pemakainya.

MAKNA

Dalam kehidupan Masyarakat Jawa, tenun lurik merupakan salah satu wujud kekayaan budaya tradisional yang telah memiliki keunikannya tersendiri. Salah satunya adanya unsur garis dan bidang yang bervariasi. Unsur garis dan bidang tersebut bukan semata bertujuan untuk keindahan secara visual atau fisioplastus tetapi juga memiliki keindahan secara filosofi.

Bahan dasar yang digunakan dalam pembuatan tenun lurik berupa benang yang terdiri dari dua macam yaitu benang lungsi yang biasa digunakan dalam wujud cosnes yang kemudian diolah dan dipersiapkan melalui proses penyetrengan, pencelupan, pengelosan.

 

MOTIF

Desain atau motif lurik tradisional mengandung makna seperti tuntunan, cita-cita dan harapan bagi pemakainya. Namun, pengguna Lurik sekarang lebih sedikit daripada beberapa dekade yang lalu.

Pola lurik yang digunakan oleh kalangan bangsawan berbeda dengan yang digunakan oleh masyarakat umum, demikian pula lurik yang digunakan dalam upacara adat tergantung pada zaman dan tujuannya. Bilamana corak dengan variasi berbeda mengandung makna yang telah digariskan menjadi sebuah patron corak.

Patron -patron corak dalam masyarakat Jawa dianggap memiliki kekuatan mistis, sehingga penggunaannya terbatas pada waktu atau kepentingan tertentu. Selain itu juga terdapat corak liwatan, tumbar pecah, kembenan dan nyampingan yang dipakai untuk upacara selamatan tujuh bulanan (ibu hamil) hal ini dilakukan agar ibu dan bayi disaat melakukan proses melahirkan dapat berjalan normal serta selamat. Maupun corak pletek jarak khusus yang dipakai oleh bangsawan yang dianggap menambah kewibawaan pemakainya.

Berikut beberapa motif lurik dan makna yang terkandung di dalam nya :

1.  Motif Kluwung

Kluwung adalah pelangi yang merupakan kejaiban alam dan tanda kebesaran  dari Tuhan, Sang Pencipta. Karena itu lurik dalam corak kluwing dianggap sacral dan mempunyai tuah sebagai tolak bala. Secara simbolis, pola corak kluwung diwakili oleh garis-garis lebar beraneka warna seperti pelangi.


Gambar : Google

2. Motif Tuluh Watu

Motif ini berarti “batu yang bersinar” dan dianggap bertuah sebagai penolak bala. Motif ini sering digunakan pada saat upacara Ruwatan Sukerta dan sebagai pelengkapan sesajen upacara persembahan Labuhan. Tuluh dapat berarti kuat atau raksasa

Gambar : Google


3. Motif Tumbar Pecah

Motif Tumbar Pecah diartikan sebagai orang memecah ketumbar dan seharum aroma khas dari ketumbar itu sendiri. Motif ini digunakan untuk upacara tingkeban atau mitoni dengan maksud agar kelahiran berjalan lancer semudah memecahkan ketumbar, ibu dan anak dalam keadaan selamat serta sehat dan bisa menjadi anak yang berguna nagi nusa dan bangsa serta harum namanya.

Gambar : Google

4. Motif Sapit Urang

Motif ini berarti sebagai jepit udang adalah ungkapan simbolis suatu siasat perang, dimana musuh dikelilingi atau dikepung dari samping dengan kekuatan komando serangan berpusat di tengah. Motif ini juga umumnya dipakai sebagai busana prajurit keraton.

Gambar : Google


5. Motif Udan Liris

Motif ini yang paling menarik dari motif lainnya, sebab motif udan liris menggambarkan hujan gerimis dengan model garis-garis ada yang Panjang serta pendek dimana itu adalah air hujan. Karena hujan mengandung konotasi mendatangkan kesuburan, maka motif ini merupakan lambing dari kesuburan dan kesejahteraan.


Gambar : Google

Meskipun dasar kain tenun lurik hanya garis-garis namun kain tersebut menjadi kekayaan budaya yang penting bagi Masyarakat terkhusus orang jawa asli. Sehingga diharapkan untuk generasi X, Y dan Z dapat melestarikan hingga generasi selanjutnya yang akan datang.

 

CARA MEMBUAT

Proses penciptaan kain Lurik tidak mudah. Penenunan dapat dilakukan setelah benang-benang dililitkan satu per satu dengan tangan hingga membentuk gulungan-gulungan benang (tukel) atau yang dapat dilekatkan (sambungkan) pada alat tenun. Belum lagi proses pencucian dan pencelupan untuk menciptakan warna kain yang indah. Satu mesin tenun kayu akan menghasilkan kain per meter berdasarkan besarnya tenaga yang dikeluarkan untuk menginjak tuas tenun pada mesin. Bayangkan, betapa sulitnya untuk hasilkan juntaian kain tenun dengan tenaga di usia yang tak lagi muda.




Gambar : Google

Perajinnya asli setempat dari waktu ke waktu mulai menghilang. Hal ini mulai terjadi karena daya minat masyarakat kurang serta tidak semua orang bisa menggunakan alat tersebut.  Beberapa waktu lalu, Setelah sempat berkunjung ke sentra kerajinan pembuatan kain Lurik di Klaten, Jawa Tengah satu fenomena ironis yang ditemukan, adalah sosok renta yang berada di balik setiap alat tenun. Dengan usia yang tak lagi muda atau generasi usia baby boomers, yakni rata rata di atas 55 tahun, orang tua yang jumlahnya tak banyak ini mengoprasikan mesin tenun tradional yang sederhana dengan sekuat tenaga.

Demikian untuk bahasan hari ini mengenai bagaimana terbentuk atau cara pembuatan kain lurik asli. Semoga dengan artikel ini membuat generasi penerus bangsa seperti generasi X, Y dan Z mau belajar bagaiamana membuat kain asli bernama lurik. Kita harus jaga kebudayaan nya agar tidak punah  namun bisa eksis hingga sekarang. Dari artikel yang mimin Tique buat mungkin ada yang merasakan  "Adakah di antara adik adik generasi milenial dan Z yang punya usulan bagaimana menghidupkan kembali seni tenun tersebut? Bagaimana pendapat Anda? " silahkan di beri komentar serta jawabannya kepada mimin ya sobat Tique di alamat email  1maculata.batique@gmail.com atau tulis aja di kolom komentar. Terima kasih banyak sobat Tique, sampai jumpa kembali!.